Langit Cerita

Di bawah langit, hujan itu
Masih enggan memberi tanda
Padahal awan hitam tak pernah bohong, tak pernah sembunyi
Saat kita menanti di balik sore

Daun-daun saling mengepak
Karena angin yang datang pada resah
Engkau terlihat bersiap
Untuk hujan sore itu dan sepenggal cerita yang tiada bermuara 
Aku pun demikian

Namun kita masih saja gagap
Padahal aku sudah melihatmu bersiap
Saat hujan mulai membintik
Pada rumput taman
pada rambutmu yang acak
Dan kita memilih diam menjajah
Sambil menepuk dada pelan
Tenanglah hati tenanglah diri

Kembali

*Untuk Adikku, Shilvia

Kita hanya berdua
Saat sekelompok angsa mulai mengepakkan sayapnya
Pada sepotong malam yang terbawa pagi

Kita masih menyamakan langkah 
Menyisakan kata selamat tinggal
Yang kita selipkan pada celah dompet 
setiap kali bertemu

Meski burung angsa atau daun-daun di belakang rumah yang terus meranggas
Tidak akan pernah tahu bahwa pertemuan esok belum kita rencanakan lagi
Tapi kita pasti kembali 

Naif Berpisah

Dingin dan hujan itu bukan cerita baru
Hubunganku dengan keduanya begitu epik dan emosional
Bahkan sebelum ada monyet
Pada narasi Amor dari Yunani
Bagiku, keduanya bukan perhal lain
Dari seseorang yang disebut AKU
Bahkan sebelum ada istilah kita
Di antara kita

Angin semalam
Embun pada sisa mentari
Bahkan langit jingga pada raut senja
Mungkin akan membawa segalanya pergi
Tapi keyakinan menulis tentangmu
Pasti akan bermuara pada kota hujan ini

Apa yang terjadi di kota ini 
selain hujan dan dinamika tradisinya
Adalah tentang diriku sendiri
Aku dewasa disini 
hingga entah akan menjadi tua dimana. 

Bersama kota yang tentram ini 
aku akrab dengan cinta. 
Bersama kota yang disebut Buitenzorg oleh Rafless ini
aku berani datang tanpa was-was untuk cinta 
dan berani pergi tanpa cemas darinya

Hujan wajah kekasihku
Mendadaklah datang, mendadaklah pergi
Bukankah cinta yang mengejutkan itu
Adalah suasana yang tiba-tiba datang 
dan tiba-tiba pergi
Meski tanpa salam, meski tanpa permisi

#AKU dan Kota Hujan

Mengalir Saja

* Untuk Sahabatku Bibti 


Siang sudah di sini 
Namun embun enggan beranjak 
Sejuk kenangan membuat urung bergerak
Memanggil mendering seperti telepon klasik

Harmoni pagi itu laksana cermin 
Ada wanita datang memaksaku untuk bercermin
Terlihat rupa di atasnya
Seperti orang yang tidak baik
Kau betul-betul menyebalkan 
Kau pagi, aku tetaplah mentari

Menyimpan kenangan kadang sia-sia
Meski ia selalu dibela
Kenangan adalah cermin
Cermin-cermin itu seperti tulisan
Terangkai cerita, menyiratkan pesan
Pesan, bahwa mati di atas kertas penuh kata itu nikmat
dan aku berharap begitu

Maka beruntunglah kawanan huruf
Yang terhimpun dalam cinta itu 
Meski nyatanya ia sebatas kata
Yang akan menjadi sempit
Jika dijabarkan 
Yang akan menjadi fana
Jika dicurahkan

Cinta itu sahabat yang berdiri sendiri
Bukan perasaan yang lahir dari situasi 
Dan sahabat terbaik, adalah ia 
yang lahir tanpa sebab dan akibat

Di Tengah Kerumunan Orang Kencana

*Refleksi Pesan Mendiang Kakek.

Kencana bukan sekedar bicara tentang anak melawan waktu, tapi lebih dari itu melibatkan persoalan gelisah yang sempat menyerak serpihan rindu.

Saya ingat beberapa tahun lalu di daerah itu, bahwa Kencana menurutku seperti oase di tengah padang gersang idealisme yang telah memudar setelah tragedi reformasi.

Idealisme kala itu seperti api yang dipegang anak-anak muda modern. Api disini bukan istilah yang dipakai oleh Kuntjoroningrat atau Yusuf Qardhawi untuk menggambarkan anak muda ibarat matahari pada pukul 12.00 siang, yaitu segaris lurus vertikal diatas ubun-ubun. Bahwa pada saat itu, panasnya berkobar seperti singa lapar yang siap menerkam apa saja tatkala keluar dari kandang, bukan itu.

Api yang dimaksud adalah api sebagaimana yang pernah dipakai oleh mendiang Kakekku untuk menggambarkan kebenaran di akhir zaman. Bahwa beliau pernah bercerita pada Ibuku tentang kebenaran di akhir zaman. Kebenaran menurutnya seperti bara api. Maka memegang kebenaran di zaman akhir seperti memegang api, apalah daya tangan kita jika bertahan memegangnya akan hangus terbakar jua.

Sekitar dua atau tiga tahun lalu hingga hingga saat aku menulis ini, nyaris sekali dalam seminggu aku bersua ke sini, mengejar dan mencecar anak-anak ‘badag’ yang berjuang hidup untuk melawan penyakit individualisme dan anti kesetia-kawanan sosial yang semakin hari semakin kuat bertahta di Kota ini.

Aku bicara di hadapan orang Kencana, atas nama gunung-gunung yang mulai rata karena nasfu, atas nama pilihan yang tidak selamanya bisa ditukar oleh materi meski nilainya seluas dunia. Bahwa hubungan cinta bersama anak-anak ‘badag’ ini, tidak sebatas puntung rokok yang dihempas Tuannya sesaat setelah diambil candunya dan tidak sebatas ampas kopi sesaat setelah diambil kenikmatannya. Bukan sebatas itu.

Bahwa pergulatan cinta bertalian kasih ini panjang dan abadi seperti diistilahkan oleh Russell Crowe yang pernah menggambarkan sahabatnya John Nash sebagaimana Bung Maqdir kutip adalah “Beautiful Minds and Beautiful Hearts”.

Petang di Kencana, Kota Hujan.